andreafaadillaha11u's blog

Just another weblog

LAPORAN SFB ASAM AMINO

October19

Laporan Praktikum            Hari/Tanggal    : Jumat/11 Oktober 2013
Struktur dan Fungsi Molekuler    Waktu        : 08.00-11.00 WIB
PJP        : Inda Setyawati S.Si M.Si
Asisten    : Ahmad Ajruddin M.
Syahrul Mustofa
Safirah Tasa N.F
Lia Kusuma Dewi

PROTEIN

Kelompok 2C

Andrea Faadillah Argadanah    (G84110078)
Whyranti Nurarfa            (G84110005)
Freddy A.S.                (G84110029)
Cindy Swastiratu            (G84110052)

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
PENDAHULUAN
Protein tersusun atas asam-asam amino yang terhubung membentuk sekuens linear melalui ikatan peptida antara gugus amino dari salah satu asam amino dengan gugus karboksil dari asam amino sebelumnya. Ikatan peptida terbentuk melalui reaksi kondensasi yang memerlukan pasokan energi. Semua asam amino yang ditemukan di dalam protein merupakan asam amino α yang gugus amino  dan karboksilnya terikat pada atom karbon α yang sama. Atom karbon α ini merupakan pusat kiral yang kuat (kecuali pada glisin) yang mengikat 20 macam gugus R yang berbeda. Semua asam amino yang ditemukan dalam protein termasuk ke dalam konfigurasi L (Kuchel dan Gregory 2006).
Pengelompokan asam amino berdasarkan sifat kimianya yakni, nonpolar atau hidrofobik, polar tanpa muatan, bermuatan negatif, dan bermuatan positif. Asam amino yang memiliki gugus R nonpolar yaitu, alanin, valin, leusin, isoleusin, prolin, metionin, fenilalanin, dan triptofan. Asam amino dengan gugus R polar tanpa muatan terdiri atas  glisin, serin, treonin, sistein, tirosin, asparagin, dan glutamin. Asam amino dengan gugus R bermuatan negatif adalah asam aspartat dan asam glutamat. Golongan terakhir ialah asam amino dengan gugus R bermuatan positif yang yakni, lisin arginin, dan histidin (Lehninger 2004).
Asam amino juga dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi fisiologis dalam tubuh, yaitu asam amino esenisal dan nonesensial.  esenisal adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh manusia dewasa sehingga harus disuplai dari makanan. Asam amino yang termasuk asam amino esensial antara lain valin, leusin, isoleusin, triptofan, metionin, teronin, lisin, arginin, fenilalanin, dan histidin. Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis oleh manusia dewasa. Asam amino yang termasuk asam amino nonesensial ialah glisin, alanin, prolin, serin, sistein, tirosin, asparagin, asam glutamat, asam aspartat, dan glutamin (Belitz et al 2009). Tujuan percobaan ini adalah menganalisis keberadaan asam amino dalam berbagai larutan dengan menggunakan uji Millon, uji Hopkins-Cole, uji ninhidrin, uji belerang, uji xantoproteat, dan uji biuret.

METODE PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Oktober 2013, pukul 08.00-11.00 WIB, di laboratorium departemen Biokimia. Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah termometer, tabung reaksi, pipet tetes, pipet mohr, balp, rak tabung reaksi, papan uji dan penangas air. Bahan-bahan yang digunakan adalah albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, fenol 2%, pereaksi Milon, pereaksi Hopkins-Cole, H2SO4, pereaksi Ninhidrin, NaOH 10%, Pb-asetat, HNO3 pekat, dan CuSO4 0,1%.
Uji Millon. Sebanyak 5 tetes pereaksi Millon dicampurkan ke 1.5 ml sampel dalam tabung reaksi. Larutan tersebut dipanaskan pada suhu 100¬oC selama 10 menit lalu diamati terbentuknya warna dan endapan. Sampel yang digunakan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Uji Hopkins-Cole. Sebanyak 1 ml pereaksi Hopkins-Cole dan 1 ml sampel dicampurkan pada tabung reaksi, kemudian ditambahkan 1.5 ml H2SO4. Perubahan warna diamati. Sampel yang digunakan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.
Uji Ninhidrin. Pereaksi Ninhidrin 0.1% sebanyak 0.25 ml dicampurkan pada tabung reaksi dengan 1.5 ml sampel. Larutan tersebut dipanaskan dengan suhu 100oC selama 10 menit sehingga terjadi perubahan warna. Sampel yang digunakan adalah albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.
Uji Belerang. Sebanyak 2.5 ml NaOH 10% dicampurkan ke dalam tabung reaksi dengan 1 ml sampel. Larutan tersebut dipanaskan pada suhu 100oC sampai mendidih. Selanjutnya larutan tersebut ditambahkan dua tetes Pb-asetat 5%, kemudian dipanaskan kembali selama 5 menit. Perubahan warna diamati. Sampel yang digunakan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.
Uji Xantoproteat. Sebanyak 0.5 ml HNO3 pekat dengan 1 ml sampel dicampurkan di tabung reaksi. Campuran dihomogenkan lalu dipanaskan pada suhu 100oC selama 10 menit dan didinginkan. Beberapa tetes NaOH pekat ditambah hingga basa dan terjadi perubahan warna. Sampel yang digunakan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Uji Biuret. Sebanyak 0.5 ml NaOH 10% dengan 1.5 ml sampel dicampurkan ke dalam tabung reaksi. Larutan tersebut dikocok dan ditambahkan beberapa tetes CuSO4 0.1% hingga terbentuk warna biru. Sampel yang digunakan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah percobaan dilakukan, hasil percobaan ditunjukkan seperti berikut,
Tabel 1 Hasil uji Millon
Sampel    Pengamatan    Warna    Gambar
Albumin 2%    -    Larutan tidak berwarna
Gelatin 2%    +    Larutan berwarna merah
Kasein 2%    -    Larutan berwarna coklat
Pepton 2%    -    Larutan tidak berwarna
Fenol 2%    -    Larutan tidak berwarna
Keterangan:     (+)    : Mengandung tirosin
(-)    : Tidak mengandung tirosin

Tabel 2 Hasil uji Hopkins-Cole
Sampel    Pengamatan    Warna    Gambar
Albumin 2%    +    Cincin violet (ungu)
Gelatin 2%    -    Larutan tidak berwarna
Kasein 2%    +    Cincin violet (ungu)
Pepton 2%    +    Cincin violet (ungu)
Keterangan :    (+)    : Ada triptofan
(-)    : Tidak ada triptofan

Tabel 3 Hasil uji Ninhidrin
Sampel    Pengamatan    Warna    Gambar
Albumin 0.02%    +    Biru ungu
Gelatin 0.02%    +    Biru ungu
Kasein 0.02%    +    Biru ungu
Pepton 0.02%    +    Biru ungu
Keterangan :    (+)    : Ada gugus amino bebas
(-)    : Tidak ada gugus amino bebas

Tabel 4 Hasil uji Belerang
Sampel    Pengamatan    Warna    Gambar
Albumin 0.02%    +    Hitam
Gelatin 0.02%    -    Cokelat
Kasein 0.02%    -    Tidak berwarna
Pepton 0.02%    -    Cokelat
Keterangan :    (+)    : Adanya sistein
(-)    : Tidak ada sistein

Tabel 5 Hasil uji Xantoproteat
Sampel    Pengamatan    Warna    Gambar
Albumin 2%    +    Oranye
Gelatin 2%    +    Oranye
Kasein 2%    +    Oranye
Pepton 2%    +    Oranye
Fenol 2%    +    Oranye
Keterangan :    (+)    : Mengandung inti benzen
(-)    : Tidak mengandung inti benzene

Tabel 6 Hasil uji Biuret
Sampel    Pengamatan    Warna    Gambar
Albumin 2%    +    Violet
Gelatin 2%    +    Violet
Kasein 2%    -    Tidak berwarna
Pepton 2%    -    Cokelat
Fenol 2%    -    Tidak berwarna
Keterangan :    (+)    : Ada peptida
(-)    : Tidak ada peptida
Percobaan ini menggunakan enam uji protein yakni uji Millon, uji Hopkins-Cole, uji xanoproteat, uji belerang, uji ninhidrin, dan uji biuret. Sampel yang digunakan yakni, albumin, gelatin, kasein, fenol, dan pepton. Albumin disusun 585 asam amino (glisin, serin, treonin, tirosin, prolin, lisin, metionin, sistein, dsb) dan 17 ikatan disulfida. Sebagian besar asam amino yang menyusun gelatin ialah glisin dan prolin. Namun, asam amino penyusun gelatin sangat bergantung dari bahan baku pembuatannya. Kasein disusun oleh asam amino tirosin dan triptofan (Murray et al 2003). Asam amino penyusun pepton ialah  leusin, glutamat, glutamin, triptofan, tirosin, dan fenilalanin.
Uji Millon adalah uji protein yang menggunakan pereaksi mercuri dan ion merkuro dalam asam nitrat dan asam nitrit. Uji Millon bertujuan mengidentifikasi adanya senyawa hidroksi fenolik sehingga protein yang mengandung tirosin akan memberikan hasil yang positif, yaitu berwarna  merah (Yazid 2006) Pemanasan yang dilakukan bertujuan mempercepat reaksi. Hasil percobaan pertama dengan uji Millon didapatkan hanya sampel gelatin yang bereaksi positif berwarna merah sedangkan sampel yang lain bereaksi negatif (Tabel 1). Menurut Pranoto (2006), gelatin mengandung < 0,5% tirosin. Oleh karena itu, intensitas warna merah yang dihasilkan sangat pudar. Hasil positif uji Millon harusnya juga ditunjukkan pada albumin, kasein dan fenol (Poedjiadi dan Supriyanti 2007). Namun, perbedaan ini konsentrasi sampel albumin kasein, dan fenol yang terlalu rendah sehingga reaksi tidak berlangsung optimum.
Uji kedua yang dilakukan ialah uji Hopkins-Cole. Uji ini spesifik untuk mengetahui kandungan triptofan dalam suau sampel protein. Triptofan akan berkondensasi dengan macam-macam aldehida dengan adanya asam kua sehingga terbenuk kompleks warna (Bintang 2010). Hasil percobaan kedua dengan uji Hopkins-Cole didapatkan albumin, kasein, dan pepton bereaksi positif  sedangkan gelatin bereaksi negatif (Tabel 2). Hasil ini telah sesuai dengan literatur bahwa albumin, kasein, dan pepton mengandung triptofan sedangkan gelatin tidak (Murray et al 2003).
Uji ketiga ialah uji ninhidrin yang bertujuan membuktikan adanya asam amino bebas dalam protein. Semua asam amino atau pepida yang mengandung asam α-amino bebas dapat bereaksi dengan ninhidrin membenuk senyawa kompleks yang berwarna biru. Namun, prolin dan hidroksiprolin menghasilkan senyawa berwarna kuning (Yazid 2006). Hasil percobaan ketiga dengan uji ninhidrin didapatkan keempat sampel (albumin, gelatin, kasein, dan pepton) bereaksi positif, yakni berwarna biru (Tabel 3). Hasil ini kurang sesuai dengan literatur yang kemungkinan disebabkan adanya kontaminan pada sampel. Gelatin yang mengandung prolin seharusnya berubah warna menjadi kuning.
Uji keempat adalah uji belerang. Sebagian protein disusun oleh asam amino yang mengandung belerang seperti metionin dan sistein. Penambahan NaOH dalam percobaan ini berfungsi membebaskan belerang dalam asam amino sistein sebagai iod sulfida. Ion sulfida kemudian bereaksi dengan Pb2+ membentuk endapan hitam. Reaksinya ditunjukkan sebagai berikut,
〖S^(2+)〗_((aq))+〖〖Pb〗^(2+)〗_((aq))→PbS_((s))↓
Hasil percobaan keempat dengan uji belerang didapatkan hanya albumin yang bereaksi positif. Hasil ini sesuai dengan literatur bahwa albumin tersusun dari asam amino metionin dan sistein (Murray et al 2003). Menurut Schrieber dan Gareis (2007), gelatin mengandung metionin dalam jumlah sedikit sehingga tidak bereaksi secara optimum membentuk warna hitam.
Uji selanjutnya ialah uji xantoproteat yang dilakukan untuk membuktikan adanya asam amino dengan gugus R benzen (tirosin, triptofan, aau fenilalanin yang terdapat dalam protein). Uji ini didasarkan pada reaksi nitrasi oleh HNO3 pekat dengan inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning saat dipanaskan merupakan indikator bahwa sampel tersebut mengandung tirosin, triptofan, dan fenilalanin (Bintang 2010). Hasil percobaan kelima dengan uji ini didapatkan kelima sampel bereaksi positif  (Tabel 5). Kepekatan warna orange yang dihasilkan menunjukkan kadar asam amino dengan gugus R benzen dalam sampel. Sampel dengan warna orange sangat pudar terjadi pada gelatin. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan kandungan fenilalanin dan tirosin dalam gelatin sebesar 2% dan kurang dari 0,5% (Pranoto 2006).
Uji terakhir yang dilakukan adalah uji biuret. Uji ini bertujuan membuktikan adanya molekul-molekul peptida dari protein. Dasar uji biuret ialah pembentukan senyawa kompleks berwarna ungu akibat reaksi ion Cu2+ (dari CuSO4) dalam suasana basa dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein. Selain itu reaksi biuret juga positif terhadap senyawa yang mengandung gugus –CH2NH2, -CSNH2, -C(NH)NH2, dan -CONH2. Namun, reaksi biuret negatif terhadap asam amino bebas atau dipeptida (Yazid 2006). Hasil percobaan keenam dengan uji biuret didapatkan albumin dan gelatin yang bereaksi positif sedangkan kasein, pepton, dan fenol bereaksi negatif. Gelatin dan albumin termasuk polipeptida. Hasil negatif pada fenol dan kasein dapat diakibatkan tidak adanya asam amino histidin, serin, dan treonin pada kedua sampel tersebut sedangkan pepton merupakan hasil hidrolisis protein (Wilson 2002).
Asam amino yang disatukan secara kovalen melalui ikatan peptida, membentuk senyawa peptida. Beberapa peptida terdapat dalam bentuk bebas di dalam sel dan jaringan serta memiliki fungsi biologi spesifik seperti hormon, enzim, dan antibiotik. Sifat-sifat asam amino ialah dapat terionisasi dalam larutan air, dapat berperan sebagai asam dan basa, dan memiliki kurva titrasi yang khas. Di dalam larutan, asam amino terionisasi dan dapat bersifat sebagai asam atau basa. Asam-asam α-amino yang mempunyai gugus amino tunggal dan gugus karboksil tunggal mengkristal dari larutan netral dalam bentuk ion penuh, yang disebut ion dipolar atau zwiterion. Efek dari sifat dipolar ini adalah titik lebur kristal asam amino lebih tinggi dibanding senyawa organik lain dengan berat molekul sama. Informasi yang dapat diambil dari kurva titrasi asam amino yang khas ialah hubungan antara total muatan listrik dan pH larutan. Nilai pH saat asam amino bersifat netral dan tidak akan mengion di dalam medan listrik disebut pH isoelektrik atau titik isoelektrik (Lehninger 2004).

KESIMPULAN
Gelatin dan albumin merupakan polipeptida. Pada percobaan ini, gelatin mengandung asam α-amino bebas yakni, tirosin. Sampel kasein dan pepton mengandung asam α-amino bebas yakni, triptofan. Sampel albumin mengandung asam α-amino bebas dan tersusun dari asam amino triptofan, metionin serta sistein. Sementara itu, semua sampel juga mengandung asam amino aromatik seperti fenilalanin.

DAFTAR PUSTAKA
Belitz HD, Grosch W, Schieberle P. 2009. Food Chemistry. Jerman (GMY): Springer-Verlag.
Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta (ID): Erlangga.
Kuchel P dan Gregory BR. 2006. Schaum’s Easy Outlines: Biokimia. Jakarta (ID): Erlangga.  Lehninger AL. 2004. Dasar-Dasar Biokimia. Maggy T, penerjemah; Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry.
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. 2003. Harper’s Ilustrated Biochemistry 26th Ed. New York (USA): Mc Graw Hill.
Poedjiadi A dan Supriyanti FT. 2007. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta (ID): UI Press.
Pranoto Y. 2006. Potensi gelatin ikan untuk menggantikan gelatin mamalia di bidang pangan [prosiding]. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah Mada.
Schrieber R dan Gareis H. 2007. Gelatine Handbook – Theory and Industrial Practice. Weinheim (USA): Wiley-VCH Verlag GmbH & Co.
Yazid E. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa Analis. Yogyakarta (ID): Andi.

posted under Me | No Comments »

MY FRIENDS ARE MY MATCH MAKER

February23

“As, tuh Dira!” teriak cewek berkaca mata, Meka.
“Sssuutt…! Nanti dia denger! Malu dong!” sautku.
Lucu emang kalo inget dulu aku paling benci sama tim basket. Setiap liat ada sekelompok anak maen basket di lapangan SMP, aku selalu mengumpat mereka. Emang sepenuhnya karena iri, karena aku enggak pernah pinter olahraga. Namun, kini aku fans salah seorang cowok dari tim basket. Dira kapten tim basket SMA kami.
Tundakanku emang termasuk nekat. Sekalinya aku ngefans seseorang malahan seorang cowok yang menjadi idola satu sekolah. Apalagi cowok itu pemilik bibit playboy. Di luar sekolah pun, banyak fansnya bertebaran dengan gaya super keren.
Gayaku tentu enggak sekeren cewek-cewek dari tim basket tapi keberadaanku di sekolah cukup populer. Kebanyakan orang mengatakan kalau wajahku tuh imut sehingga menarik perhatian. Buktinya, belasan cowok yang aku enggak aku kenal ternyata mengenalku. Namun, beberapa dari mereka langsung mati gaya pas tau aku anggota klub perpus. Wajar. Kebanyakan cowok jadi enggak pede kalo berhadapan sama cewek kutu buku, termasuk Dira.
***
Meka, Tera, Nela, dan aku pulang bersama. Seperti biasa di sepanjang jalan kami mengobrol dengan asiknya tanpa memperdulikan sekitar. Kami berteman sejak SMP hingga kini, SMA.
Meka cewek pemalu yang dalam sekejab bisa bertransformasi jadi cewek super romantis kalau udah jatuh cinta. Beberapa saat lalu, dia kepentok panah cinta kapten futsal SMA, Izar. Pas ulta Izar, Meka bela-belain bikin black forest sendiri. Namun, beberapa minggu kemudian tersiar kabar hubungan Izar dengan cewek lain. Seketika hancurlah hati Meka. Huuh, sedih….
Lain halnya dengan Tera, cewek modis yang dikejar-kejar cowok karena kesupelannya. Kebanyakan cowok mendadak mengalami cinlok kalo udah berada di dekatnya seperti sebuah magic.
Enggak berbeda jauh dengan Tera, Nela juga cewek supel tapi ceritanya berbeda. Nela udah lama kepentok cinta dengan seorang cowok. Hubungan keduanya udah pernah mengalami backstreet pas SMP  hingga LDR seperti sekarang. Jelas. Nela enggak ngelirik ke cowok lain meski pacarnya itu jauh di mata.
“Ter, gimana sama Gana, Haki, trus Dimas? Jadi pilih yang mana,” introgasiku.
“Huuh… Buku melulu sih yang diurusin, sampai nasib temennya sendiri enggak tau. Tera tuh nerima Haki,” saut Nela.
“Yee… Nyaut aja! Iya nih… Aska payah!!! Enggak tau juga kan, kalau Bima nembak aku,” ucap Tera.
Buset. Emang bener-bener super laku nih cewek. Primadona SMA banget.

“Susah, As! Pertolongan kita aja kamu tolak. Kita tuh enggak mau nasibmu sama kayak Meka. Kamu tuh masih ada kesempatan daripada Meka. Wajah kamu tuh cantik, berbakat, trus berprestasi,” ucap Nela.
Terharu. Tapi dimana harkat seorang cewek kalo sampai berbuat seperti itu.
***
“DICARI COWOK UNTUK SEORANG CEWEK JOMBLO IMUT DAN PINTAR! ASKA MITA SALSABILA”
“Gimana, As? Keren kan!” goda Nela.
“Keren… KUTU RAMBUTMU ITU!! Jangan aneh – aneh deh! Kalo orang lain tau, enggak punya muka tau’. Sini aku buang!”
***
Pagi yang cerah, aku harap tingkah aneh ke-3 temenku enggak terjadi lagi.
“JATUH CINTA.. BERJUTA RASANYA..,” senandung cowok yang aku kenal, Dira.
Nyanyiannya memecah suasana jantung yang tenang menjadi kalang kabut. Aku harap dia segera menjauh.
“Pagi, Ter, Nel, Mek, As! Pagi – pagi udah nongkrong di depan kelas. Geser dong!” ucapnnya sambil mengambil posisi di pinggirku.
OH, MY GOD! Di sampingku Dira. Aku mau pingsan nih.
“Mek, aku ke kelas dulu mau… mau… ngerjain PR. Iya aku mau ngerjain PR,” ujarku.
“JATUH CINTA.. BERJUTA RASANYA..,” senandungnya lagi.
***
“Ya, Ampun, Mek! Aku bener – bener enggak nyangka sama kejadian tadi. Jantungku rasanya habis maraton ke Kutub aja. Kok bisa ya tiba – tiba Dira nyanyi gitu. Trus yang paling aneh tuh senyumannya ke aku itu loh, kayak tau perasaanku aja. Aneh enggak sih!” tanyaku saat duduk sebangku dengannya.
“Yang aneh tuh kamu. Itu kan perkembangan bagus malah bingung,” jawabnya.
“Tapi… dia bukannya udah punya pacar ya?!”
“Udah putus 2 bulan yang lalu lagi. Lemot sih, Aska!”
“ASKA! MEKA! PERHATIKAN YA!” tegur Bu Kimia, Bu Nazwar.
***
Hari baru yang cerah lagi, setelah hari yang menyenangkan kemaren. Rejeki nomplok, bisa papasan dengan Dira pagi – pagi gini. Dingin. Cukup dekat kami berpapasan. Tapi ekspresi dan prilakunya begitu dingin. Seperti enggak pernah kenal denganku. Kenapa?
“Mek, Dira kok dingin banget ya prilakunya. Enggak kayak kemaren,” tanyaku.
“Jalan sama aku masih kedinginan. Emangnya Dira habis masuk kulkas,” canda Meka.
***
Hari ini masih sama. Meski pagi cerah, tapi Dira mendung. Enggak ada senyuman buat kami berempat. Sebetulnya apa sih yang terjadi?
“Mek, Dira kenapa ya! Sehari mbuat kegirangan. Tapi sekarang kayak enggak kenal kita aja. Kalo bukan Dira, udah aku banting tuh anak. Habisnya waktu aku mau nglupain, dia nongol. Tapi waktu aku berangan – angan lagi, dia ngilang. Atau akunya yang keGRan. ASKA LEMOT. ASKA JADUL!” keluhku.
“As, aku enggak tahan! Kita minta maaf. Jadi… kami minta Dira buat deketin kamu hari itu..,” saut Nela ketakutan.
“Saat itu kami tau, kalo dia udah putus. Jadi kami nekat..,” tambah Tera.
“Dari situ kami tau, kalo dia pernah suka sama kamu. Kita mau liat kamu seneng, enggak taunya malah jadi gini. Dira emang PLAYBOY baru 2 minggu putus langsung pacaran lagi. Untungnya dia enggak dapetin kamu. Atau.. kami bakal nyesal duniawi,” ujar Meka.
Apa yang harus aku pentingkan sekarang? Mempertahankan persahabatan, atau kemarahan pada 3 orang temanku ini. Tujuan mereka baik, tapi kenyataan memang tak sama dengan impian.
“Mek! Ter! Nel! THANKS! Tapi… aku enggak bisa…”
“Kita tau! Kita salah tapi apa persahabatan kita harus putus karena..,” potong Nela.
“Aku belum selesai ngomong, Nel! Aku enggak bisa trima kalian jadi MATCH MAKER. Enggak memenuhi syarat. Aku jadi bener – bener mau mbanting tuh cowok. Karena buat sibuk temenku ini. Trims ya! Nah, dari pada laper. Gimana kalo ke Kantin? Aku traktir… permen 100an!”
“DASAR!” teriak ketiganya.
***
composed by Andrea Argadanah

I’m biochemist

February18

Me ^_^

September29

Hajimemashite

posted under Me | No Comments »